Tampilkan postingan dengan label Artikel Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Muslimah. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 September 2014

Presidennya Jokowi, Benarkah Akan Melepas Papua Untuk Merdeka? Berapa Provinsi Lagi Yang Juga Akan Merdeka Nantinya?


Menteri Luar Negeri Federasi Papua Barat Jacob Rumbiak menyarankan Indonesia segera memberikan pengakuan terhadap kedaulatan Papua.

Dia beralasan cara ini jauh lebih baik ketimbang memakai referendum untuk mengetahui keinginan rakyat Papua. Apalagi jika tetap ngotot mempertahankan Papua dalam wilayah Indonesia. Korban bakal terus berjatuhan karena perlawanan tidak akan pernah berakhir.

Berikut penuturan Jacob Rumbiak saat dihubungi 
Faisal Assegaf  melalui telepon selulernya Rabu lalu. 

Papua tidak mungkin merdeka tanpa dukungan Amerika sebab di sana ada Freeport. Bagaimana sikap terakhir Amerika terhadap gerakan Papua merdeka?

Sebenarnya, itulah. Itu menyebabkan saya pikir Papua dengan Indonesia perlu bicara. Sebab Amerika menggunakan pemerintah Indonesia sebagai pengawalnya untuk melindungi kepentingan kapitalis. Indonesia hanya dapat berapa persen? Saya pikir 10 persen saja toh? Indonesia hanya dapat sedikit kan? 

Papua dengan Indonesia akan kita atur baik, akan kita bagi lah. Kalau memang Freeport jadi tempat Amerika gunakan tangan Indonesia supaya kepentingannya jalan, itu kita sebaiknya atur saja supaya hasil dari Freeport bisa dinikmati oleh orang Indonesia dan orang Papua. Kita atur bagi hasil berapa persen. 

Karena Papua bukan saja tembaga. Sebab di Papua tambang terbesar itu ada emas, minyak, gas, uranium ada di sana. Makanya itu saya sering berpikir hanya karena kepentingan kapitalisme saja kok membuat saudara saya dari Indonesia dengan Papua harus saling membunuh. Karena itu kan tidak bagus. 

Kita harus berpikir sehat supaya tidak hanya kepentingan ekonomi. Kenapa Indonesia dan Papua tidak bicara baik-baik saja sehingga kita dapat lebih banyak sebab kita punya. Kalau Indonesia dan Papua bisa bekerja sama di mana kita kontrol seluruh ekonomi, kita akan menjadi tuan. 

Kita akan menjadi pihak penentu di dunia. Kita akan kendalikan kapitalisme Amerika atau Barat. Saya pikir ini kita harus bicara sekarang.

Soal Papua dengan Amerika tadi Anda sebut, itu sangat tergantung dari Indonesia. Kalau Indonesia masih tetap melepaskan, membiarkan Amerika menjadi tuan terus mengontrol Freeport sehingga Papua terus ditimpa begitu. Indonesia pun sama, di bawah ketiak kapitalisme sampai kekayaan habis kemudian baru mereka lepas. Seperti di Afrika. Semua kekayaan di Afrika sudah habis, baru Inggris, Prancis, Portugis kasih kemerdekaan. 

Memangnya berapa konsesi mau dikasih Papua lewat Freeport kalau Indonesia mau kasih kemerdekaan?

Jelas kita kasih, saya sendiri ada di situ. Saya akan lebih banyak berbicara dengan semua pemimpin. Artinya, pemerintah dan parlemen itu jelas memiliki standar pembagian untuk kedua negara. Kita bisa atur 40 persen (Indonesia) dan 60 persen (Papua) atau 52 persen (Papua) dan 48 persen (Indonesia). 

Kenapa tidak? Kita akan bicara soal bagi hasil. Itu sudah jelas. Papua punya tanggung jawab moral untuk harus berbicara baik-baik sehingga kedua pihak sama-sama untung.

Jadi kemerdekaan itu bukan salah satu kalah, bukan salah satu menang, tapi bagaimana kita akan mendapat keuntungan sama. Tidak ada lebih, tidak ada kurang. Itu jelas kebijakan dari pembicaraan beberapa teman dalam pemerintahan federal lahir lewat kongres ketiga pada 2011. 

Kami harap pemerintah baru bisa membuka satu ruang di mana kita bisa berbicara, ada hal-hal kita bisa bicara tertutup dan ada hal-hal kita bisa bicara terbuka. Indonesia dan Papua adalah korban perang dingin dan kita tidak bisa terus tinggal di dalam situasi diciptakan bangsa asing atau para kapitalis. 

Mari kita bangkit untuk menyatakan kami mampu bangkit dan menyelesaikan persoalan selama ini dilihat sebagai masalah. Padahal masalah ini diciptakan oleh orang luar. Kemudian mereka membiarkan kami untuk saling berkelahi. 

Kemudian mereka berbicara hanya basa-basi saja begini begitu. Sedangkan Indonesia tidak berani menyelesaikan masalah sebenarnya ditinggalkan dan diciptakan oleh orang lain. 

Jadi kemerdekaan Papua ini tergantung Indonesia mau kasih atau tidak?

Sebenarnya saya melihat ada dua hal. Pertama, kalau dari pihak Indonesia bisa memberikan dengan baik, saya pikir tidak perlu ada perebutan kemerdekaan dengan darah dan pengorbanan cukup besar. Tapi jelas dari Papua sudah siap untuk melakukan apa saja. 

aya pikir di era teknologi dan informasi ini lebih mempercepat. Karena orang Papua sekarang banyak sudah belajar. Peralatan perang itu sudah tidak sulit untuk orang Papua. Kapan saja kalau dia mau beli pesawat tempur terutama dijual di Tembagapura jadi gampang. Hanya kita tidak mau ada pertumpahan darah sia-sia. 

Kami mau ada penghormatan kepada Indonesia daripada merampas. Situasi memaksa sehingga terpaksa Papua lepas saja begitu. Berarti kita punya hubungan Indonesia itu sama dengan air garam kita buang ke air laut. Padahal kita sudah punya hubungan baik semasa di bawah Indonesia. 

Jadi kita tidak melihat Indonesia sebagai penjajah. Tapi kita akan luruskan sejarah, termasuk Indonesia baik, di mana buktinya Papua menjadi sebuah negara. 

Tapi kalau kami merdeka karena dipaksa, nanti dari segi sejarah Indonesia dilihat sebagai penjajah. Jadi kami berusaha untuk mau bicara ini dengan Jakarta supaya nilai dan nama besar dari Indonesia itu tidak dilihat sebagai penjajah, tetapi bagaimana nanti dipersiapkan seperti negara-negara persemakmuran oleh Inggris. 

Sekalipun mereka belum siap betul, tapi mereka bisa merdeka dan mengatur hal-hal lain menyangkut perdagangan, pendidikan, teknologi, dan lain-lain. Jadi dari teman-teman terutama teman-teman akademisi terlibat di dalam dapur strategis dan taktis, kami lebih banyak ingin supaya bagaimana peralihan itu dengan cara bermartabat. 

Dengan demikian, di dalam sejarah Papua itu kami tidak menempatkan Indonesia sebagai penjajah di mana kami harus merebut kemerdekaan dari penjajah. Tapi kami melihat kehadiran Indonesia di Papua itu sebagai anugerah Tuhan, anugerah Allah untuk mempersiapkan Papua, untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri. 

Mengapa Anda masih yakin Papua merdeka padahal perjuangan bersenjatanya sangat kecil, perjuangan diplomasi tidak dapat dukungan dari internasional? Mengapa masih ngotot ingin merdeka?

Saya terlalu yakin karena pertama itu adanya inisiatif dan aktivitas nyata sekarang di dalam negeri, di Papua. Kalau melihat sebelum saya dipenjara tahun 1989, perjuangan Papua itu hanya orang di hutan, segelintir orang Papua di luar negeri hanya bicara saja. 

Waktu itu saya punya inisiatif kalau orang Papua mau merdeka basis kekuatan rakyat itu harus dibangun lewat kaum terpelajar. Maka waktu itu dokter Thomas Huolay kembali dari Amerika Serikat dan dokter Ottomus Bakri. Kami bertiga berpikir kampus adalah tempat di mana dilahirkan kaum terpelajar untuk memimpin perjuangan sebab kita bukan berjuang di hutan. 

Kami harus berjuang menghadapi keputusan perang dingin dulu terlibat menyerahkan kami ke Indonesia. Itu berarti harus kami kuasai bahasa Inggris, bahasa Spanyol, bahasa Perancis, bahasa Portugis untuk bisa memasuki posisi untuk tawar menawar di PBB. Tapi juga kami harus membangun basis perjuangan itu di semua wilayah Papua dan di luar negeri, dan itu berhasil. 

Basis perjuangan kami bukan ahanya ada di tujuh wilayah adat. Kami punya basis gerakan pemuda, pelajar, mahasiswa di Jawa, Bali, Sulawesi. Kami juga punya basis pemuda, pelajar, mahasiswa di Amerika, Eropa, Australia, dan pasifik. Akan ada hasil. Jadi itu sekarang sudah ada.

Sekarang kami punya pendukung itu Senegal, kemudian Perancis secara diam-diam juga sedang mendorong. Tapi jelas itu salah satu negara anggota PBB itu sudah ada. Dan kami harap dengan adanya perbaikan organisasi politik Papua dalam tahun ini itu kami sudah bisa merapat, menjadi anggota penuh. 

Jadi perjuangan Papua merdeka itu bukan karena perjuangan politik atau diplomatik atau militer kecil. Bagaimana kami harus membangun sebuah proses benar sehingga kami bisa raih. Selama ini kami tidak ada proses benar karena itu baru terjadi pada 2011. Karena secara tata negara, untuk ketatanegaraan, kongres III itu memenuhi syarat karena dia mendeklarasikan pemerintah. Kalau kongres II itu tidak, tahun 1971 itu mereka deklarasi pemerintahan di hutan dan pemberitaannya juga di luar negeri, bagaimana mau melobi Jakarta. 

Sekarang kami sudah punya seperti Mandelanya Afrika Selatan, Soekarno-Hattanya Indonesia. 

Siapa disebut Soekarno-Hattanya Papua kalau nanti Papua merdeka?

Kalau sekarang kita sudah punya presiden dan perdana menteri hasil kongres III itu Gorgorus Suebu dan perdana menteri Edison Waromi, baru saja dibebaskan dari penjara pada 21 Juli lalu.

Kalau dilihat pelaksanaan Perpera kan Papua sudah berjuang 45 tahun. Berapa tahun lagi kira-kira bakal terwujud Papua merdeka?

Saya sendiri belum bisa prediksikan kapan tapi saya harap cepat. Itu tergantung pada bagaimana pemerintahan baru bisa membuka kami peluang untuk negosiasi.

Dalam lima tahun pemerintahan Jokowi belum tentu Papua merdeka?

Kami sedang berusaha bekerja keras di dalam pemerintahan Jokowi. Selama lima tahun kami harap bisa negosiasi dengan beliau sehingga tidak terlalu lama perjuangan ini, terus mengorbankan banyak kerugian bagi Indonesia. Bagi orang Papua itu tidak masalah. Itu sebuah perjuangan sudah jelas, namanya perjuangan itu membutuhkan pengorbanan. 

Saya terlalu yakin Papua bisa merdeka karena isu Papua sekarang ini sudah menjadi isu internasional. Sedang jadi perhatian dunia.

Kalau Papua merdeka, benderanya apa, bahasanya apa, lambangnya apa?

Bahasa nasionalnya akan ditetapkan oleh pemimpin nanti. Bagi saya sendiri keputusan itu nanti terserah kepada rakyat setelah hasil pemilihan umum pertama. Anggota parlemen akan ditetapkan sesuai keputusan rakyat. Tapi jelas itu kita tetap menggunakan bahasa bisa dimengerti semua pihak.

Berarti bahasa Indonesia?

Iya, bahasa bisa dipakai oleh semua pihak. Kalau sesuai keputusan kongres II itu kami akan menggunakan empat bahasa seperti di Fiji. Di Fiji empat bahasa dan itu bisa digunakan sangat fasih untuk menulis dan membaca. Kami juga akan mengembangkan empat bahasa. Jadi bahasa Indonesia tetap kami gunakan karena bahasa ini bisa dipakai oleh seluruh masyarakat Papua, tetapi juga kami bisa berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia dan juga orang-orang di Malaysia. 

Kedua, kami akan gunakan fising karena bahasa ini hanya bisa dipakai oleh orang-orang Melanesia, seperti Papua Nugini, Solomon, Vanuatu, dan di Torestrage. Dan juga karena kami adalah ras Melanesia. Kami harus tetap menggunakan bahasa ini. 

Ketiga bahasa Inggris karena itu bahasa internasional kami pakai untuk berbicara dan bercakap-cakap dengan masyarakat internasional. Sedangkan keempat setiap negara bagian akan kembangkan salah satu bahasa daerahnya menjadi bahasa di negara bagiannya. Itu menurut hasil kongres II tahun 2000. 

Kalau Papua merdeka, bentuk negaranya apa?

Kami sudah putuskan untuk federal. Karena Papua itu terdiri dari 312 suku dan 312 suku ini mendiami tujuh wilayah adat. Sehingga lewat federal ini nanti tidak mempermasalahkan keputusan pusat karena 80 persen hasil dari setiap negara bagian itu penuh dipakai untuk pembangunan wilayahnya sedangkan 20 persen saja bisa disetor ke pusat. 

Jadi tidak ada saling menyatakan kalau nanti sistem presidensial atau republik itu kekuasaan di tangan pusat sehingga salah satu suku naik suku lain bisa berserakan. Sehingga bisa saja terjadi semacam konflik nasional antar suku dan ini kan sekarang sudah kelihatan berbahaya lewat otonomi khusus. 

Ini sudah berbahaya sehingga kami sudah harus letakkan dasar-dasar negara nanti lahir. Itu berdasarkan sistem dan bentuk benar sehingga kami harus selesaikan masalah kemungkinan bisa timbul setelah merdeka. 

Kedua, kami juga tetapkan federal karena kami belajar dari India. India merebut kemerdekaan itu sangat gampang. Tapi setelah merdeka pertumpahan darah lebih besar dan perpecahan menjadi Bangladesh dan Pakistan. Papua pun juga, kami sudah lihat kalau tidak atur baik-baik, bisa saja satu waktu wilayah kepulauan itu bisa pisah dari daratan seperti daerah-daerah Pasifik lain. 

Bisa sebut tujuh negara bagian itu apa saja?

Tujuh negara bagian itu wilayah satu, Padi di Jayapura. Kedua, wilayah Serere di Marokun dan Biak. Ketiga, wilayah Dumbray di Manokwari. Kempat, Umbray di Fakfak, Kaimana. Kelima, Haamim itu seputar Merauke. Keenam, Lapago itu wilayah Lame, itu Wamena di atas. Ketujuh, Metago itu wilayah dari Suku Me. Mereka mendiami daerah Etami, Larike, Nabire.

Rencana ibu kota di mana?

Itu masih sedang dipertimbangkan. Bisa saja di Jayapura atau di tarik ke tengah ke daerah Nabire. Kelihatannya akan ditarik ke tengah. Jayapura itu kemungkinan dijadikan pusat perdagangan negara-negara Pasifik. Sedangkan ibu kotanya bisa dipindah ke Nabire atau Manokwari. 

Jadi Bintang Kejora belum tentu menjadi bendera nasional kalau Papua merdeka?

Bisa jadi juga. Karena sementara ini agak terjadi pro dan kontra. berdasarkan kongres kedua tahun 2000 kita putuskan tetap dengan Bintang Kejora sampai dengan nanti peralihan. Kalau administrasi pemerintahannya sudah dialihkan ke Papua dan hasil pemilihan pertama anggota parlemen akan tetapkan apakah bendera itu tegtap atau ada baru. 

Bendera kami pakai ini sebenarnya bukan bendera kami. Ini masih warna bendera kolonial. Tapi kita sudah sepakat kita pakai saja sampai dengan nanti parlemen pertama itulah akan menetapkan. Kita akan ukur semua atribut kami sesuai identitas kami. Kalau tidak ada identitas orang Melanesia, diganti saja.

Kalau Papua merdeka rencananya pakai mata uang apa?

Sementara ini kami dari federal sedang rancang itu ada dua kemungkinan. Kami bisa pakai pound sterling atau dolar Amerika selama di bawah PBB sampai dengan peralihan, kemudian kami ubah. 

Sistem pemerintahannya parlementer? 

Iya, sistemnya parlementer.
***Catatan : 
Jacob Rumbiak (JR)
Jacob Rumbiak (JR) yang berasal dari Biak, Papua Barat merupakan seorang tokoh separatis Papua yang pernah dipenjara dan satu sel dengan Xanana Gusmao.
 





Selasa, 25 Maret 2014

Calon Anggota Legislatif (CALEG) Dari PAR-POL Peserta PEMILU 09 APRIL 2014 Yang Akan Menjadi Wakil Anda DI DPR RI


A.      Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah VIII (Jateng 8)
Meliputi  Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat (PD) diprediksi akan 'kethetheran' mempertahankan kursi DPR-RI di Dapil VIII Jawa Tengah (Banyumas-Cilacap) pada Pemilu 2014 ini. Satu-satunya kursi PKS terancam berpindah tangan ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan salah satu dari dua kursi Partai Demokrat terancam diambil alih oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dari 8 (delapan) kursi yang ada di Dapil VIII kemungkinan 2 kursi akan menjadi milik PDIP, 1 kursi untuk Golkar, 1 kursi untuk PAN, 1 kursi untuk Gerindra, dan 1 kursi untuk Demokrat. Sisa 2 kursi lainnya akan menjadi rebutan partai-partai menengah ke bawah seperti PKB, PPP, dan PKS sendiri, sedangkan Nasdem, Hanura, PBB dan PKPI harus puas menjadi penonton saja. Benarkah demikian?.

Catatan: 

***Silakan klik> nama caleg atau nama partainya di bawah ini untuk melihat profile-nya (account-nya)***

1.      Partai Nasdem

Sebagai partai pendatang baru, partai pimpinan Surya Paloh ini sangat sulit untuk bisa mendapatkan jatah kursi di dapil ini. Meskipun menempatkan 8 caleg, namun nama-nama berikut ini masih sangat asing di telinga kebanyakan masyarakat awam calon pemilih pada pemilu legislative 2014 nanti. Berikut daftar nama caleg Partai Nasdem;

1)      Srijanto Tjokrosudarmo,
2)      Rumiyati,
3)      Ir. Arief Suratman, MM,
4)      Giyo AS, SE., MM,
7)      Andi Azwan, BBUS., MBA,
8)      Faradillah, SE. 

Caleg Partai Nasdem juga “miskin” alat peraga kampanye (APK), hanya ada beberapa APK milik Arief Suratman yang sempat mejeng di beberapa titik sebelum akhirnya dibongkar paksa oleh anggota panwas. 

 
Pada Pemilu 2004 partai ini berhasil menempatkan salah satu kadernya yakni Prof. Drs. H. Cecep Syarifuddin duduk di Senayan, namun pada Pemilu 2009 PKB harus rela kehilangan kursinya karena sebagian konstituen memilih hijrah ke Partai Demokrat yang mengusung salah satu kader NU putra daerah, Khatibul Umam Wiranu yang kemudian berhasil duduk di Senayan pada periode 2009-2014. Di Pemilu 2014 ini, PKB mencoba untuk bangkit dengan memanfaatkan kemerosotan elektabilitas Partai Demokrat dan PKS. 8 caleg diterjunkan disini untuk meraih simpati warga nahdliyyin,yaitu:

1)      Ahmad Iman,
2)      Siti Mukaromah, S.Ag,
4)      Bambang Barata Aji,
5)      Khabib Mahfud,
6)      Yualifus Salmah,
7)      Dwi Yanti,

Empat orang caleg bergerak dengan dinamis, meskipun kurang dikenal di lingkungan PKB, yaitu:

Ahmad Iman; memasang banyak APK secara merata hampir di semua titik-titik strategis di Banyumas dan Cilacap. 

Siti Mukaromah; pengurus PPKB pusat asli Banyumas cukup dikenal di lingkungan PKB khususnya Banyumas, APK-nya sangat merata di Banyumas-Cilacap hingga ke pelosok-pelosok pedesaan terpencil sekalipun. 

Moh Taufik Hidayatulloh; seorang kompasianer yang namanya cukup dikenal di lingkungan Cilacap dan sekitarnya, mantan Ketua KPUD Cilacap, Pengurus LP Ma’arif NU Cilacap dan Ketua FKUB Cilacap ini juga bergerak dari satu kampung ke kampung yang lain untuk mengkampanyekan diri.

Khabib Mahfud; mantan anggota DPRD Kabupaten Banyumas dari FKB juga bergerak secara dinamis melalui jejaring pesantren, karena kebetulan yang bersangkutan merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren di daerah Rawalo Banyumas.

Selebihnya nama-nama asing yang kurang dikenal bahkan di lingkungan PKB dan NU sekalipun. Jika PKB beruntung, satu orang kader bisa duduk di Senayan pada 2014 nanti. Peluangnya secara berurutan dimiliki oleh Siti Mukaromah, disusul Khabib Mahfud, Moh Taufik Hidayatulloh dan Ahmad Iman.


PKS berkesempatan menempatkan salah satu kader terbaiknya duduk di Senayan pada Pemilu 2009, yaitu Tossy Aryanto, SE., MM.Agr. Keberhasilan PKS mengantar Tossy Aryanto duduk di Senayan tidak lepas dari Pilkada Kabupaten Banyumas tahun 2008 di mana koalisi PPP-PKS mengusung pasangan Bambang Priono-Tossy Aryanto. Meskipun gagal, hasil pilkada yang menempatkan pasangan ini pada urutan kedua, menjadikan pencalegan Tossy Aryanto pada Pemilu 2009 berjalan mulus, dan PKS berhasil mengantarkan kadernya ini duduk di Senayan. Namun 5 (lima) tahun menjabat sebagai anggota DPRRI dari FPKS, nama Tosyy semakin tenggelam; tujuh caleg diterjunkan untuk mempertahankan kursi yang masih ada, yaitu:

     1)      Dr. Arif Awaludin, SH., MH,  
     2)      Ir. Novi Andriyani,
     3)      Tri Winarti, S.Sos,  
     4)      Etty Rosita,
     5)      Tossy Aryanto, SE., MM.Agr (incumbent),  
     6)      Rumanti Agustina, S.Si, 
     7)      H. Akhmad Saekhu, S.Pt., MM. 

Nama Arif Awaludin dan Tossy Aryanto cukup dikenal di Banyumas-Cilacap. Selebihnya adalah nama-nama internal yang belum dikenal secara luas di public Banyumas-Cilacap. Namun demikian, hingga tulisan ini ditulis APK caleg PKS di atas sangat minim, bahkan nyaris tidak ada. Para kader baru memasang sejumlah bendera partai saja di beberapa titik strategis di sepanjang wilayah Banyumas-Cilacap.

Kasus yang membelit para kader PKS di tingkat pusat sepertinya akan membawa akibat yang kurang menguntungkan di daerah. Tak hanya caleg pusat, caleg provinsi dan kabupaten juga tidak banyak yang memasang APK, tidak seperti caleg-caleg dari partai lainnya. Apa mungkin patuh dengan panwas, dilarang memasang APK sebelum masa kampanye? Yang jelas untuk mempertahankan satu kursi PKS di sini peluangnya masih fifty-fifty, bahkan terancam hilang dan kalapun ada kesempatan yang paling berpeluang adalah Arif Awaludin disusul Tossy Aryanto.


Pada Pemilu 2004 PDIP berhasil menempatkan 3 orang kadernya duduk di Senayan, Drs. Agus Condro Prayitno, Nadrah Izahari, SH dan Ir. Hendarso Hadiparmono, MBA. Pemilu 2009 PDIP harus rela kehilangan 1 kursinya, hanya tinggal 2 orang kader yang berhasil duduk di Senayan, Budiman Sudjatmiko dan Adisatrya Suryo Sulisto. Meskipun secara nasional elektabilitas PDIP terus meningkat, namun khusus di Dapil VIII Jawa Tengah, Banyumas-Cilacap peluang PDIP untuk mengulang suksesnya di tahun 2004 dengan menempatkan 3 kader di Senayan bukan pekerjaan yang mudah, peluang riilnya adalah mempertahankan 2 kursi yang diperoleh pada Pemilu 2009. 8 caleg diturunkan di sini, yaitu:


1)        Adisatrya Suryo Sulisto (incumbent),

2)        Ir. Wityasmoro Sih Handayani,

3)        Ida Resmi Nurani,

4)        Budiman Sudjatmiko, M.Sc., M.Phil (incumbent),

5)        Swastika Noorsabri,

6)        Dra. Nursintauli Magdalena,
7)        Arie Tjahjanto,
8)        Iis Aisah, M.Si.


Dari segi sosialisasi dan ketersediaan APK, Adistrya Suryo Susilo dan Budiman Sujatmiko sebagai incumbent yang namanya sudah cukup dikenal, baik di internl PDIP maupun di lingkungan Banyumas-Cilacap dan sekitarnya lebih unggul dibanding yang lain, disusul Wityasworo Sih Handayani yang APK-nya juga cukup merata. Sisanya hanya nama-nama asing yang hanya dikenal di internal PDIP saja.

Salah satu factor kesulitan PDIP untuk mengulang sukses 2004 karena salah seorang kader PDIP Cilacap yang juga putri (mantan) Ketua DPC PDIP Cilacap, Novita Wijayanto yang semula diharapkan bisa menjadi salah satu pendulang suara “loncat pagar” mencalonkan diri sebagai caleg DPRRI dari Partai Gerindra, dan buntutnya Sang ayah, Fran Lukman yang Ketua DPC PDIP Cilacap dipecat dari jabatannya oleh DPP.

Dengan modal sebagai anggota DPRD Jawa Tengah, Ketua DPD KNPI Jawa Tengah dan “mantan” Calon Bupati Cilacap dari PDIP yang gagal menjadi jawara, Novita optimis bisa memboyong sebagian simpatisannya ke gerbong Gerindra, sehingga PDIP harus bekerja keras untuk bisa mempertahankan 2 kursi di Senayan, dan yang paling berpeluang adalah para incumbent, Adistrya Suryo Susilo dan Budiman Sujatmiko, disusul Wityasmoro Sih Handayanto dan Swastika Noorsabri. Meskipun pencapresan Jokowi berpengaruh positif, namun PDIP peluang PDIP untuk menempatkan 3 kadernya di Senayan tetap terasa berat.

5.      Partai Golongan Karya

Partai ini jelas ingin mengulang sukses Pemilu 2004 yang berhasil menempatkan 2 kadernnya duduk di Senayan, H. Dito Ganinduto, MBA dan H. Slamet Effendy Yusuf, Msi. Namun demikian hal ini tentu tidak mudah, karena kenyataannya pada Pemilu 2009 Golkar hanya bisa menempatkan satu kadernya saja, H. Dito Ganinduto, MBA; delapan caleg diterjunkan di sini untuk meraih simpati pemilih, adalah:

1)      H. Dito Ganinduto, MBA (incumbent),
3)      Dra. Hj. Siti Aniroh,
4)      Virta Hanisah, SH., MH,
6)      Hj. Purwati, MBA,

Tiga orang caleg gencar melakukan sosialisasi baik dengan cara menyambangi konstituen maupun memasang sejumlah APK, Dito Ganundito, Taufan Eko Nughroho Rotorasiko dan Siti Aniroh. Yang paling intensif dan menang APK Taufan Eko Nughroho yang juga Ketua DPP KNPI, selain pemasangan APK, menyambangi warga juga memanfaatkan jarinan KNPI di daerah. Peluang satu kursi Golkar di Senayan fifty-fifty antara Dito Ganundito dan Taufan rotorasiko, disusul Siti Aniroh. Selebihnya adalah nama-nama yang masih asing di telingan calon pemilih dan hanya dikenal di internal Golkar saja.


Beruntung pada Pemilu 2009 lalu, partai ini berhasil menempatkan salah satu kadernya duduk di Senayan, Sadar Subagyo dan Pemilu 2014 kali ini tampaknya partai pimpinan Prabowo Subijanto ini juga beperluang mempertahankan kursi yang telah diperolehnya, bahkan ada kecenderungan mengalami peningkatan perolehan suara sekalipun masih terlalu berat untuk mendapatkan 2 kursi. Delapan caleg diterjunkan untuk meraih simpati sebanyak-banyaknya, mereka adalah:

2)      Ir. Sadar Subagyo (incumbent),
3)      Suwarjo Hw, S.Pd., MM,
4)      Abdul Hakam Nagib,
5)      Waskita Rini,
7)      Airlangga Nagara Satya,
8)      H. Arniati HM Thoib.

Dua orang caleg bersaing ketat, Novita Wijayanti dan Sadar Subagyo. Novita adalah anggota DPRD Propinsi Jawa Tengah dari PDIP yang berpindah ke Partai Gerindra. Novita pernah mencalonkan diri sebagai Bupati Cilacap dari PDIP pada pilkada yang lalu, namun kalah tipis oleh Tatto S Pamuji, calon bupati yang diusung Partai Golkar. Mantan pemilihnya di Pilkada diharapkan bisa menjadi penyokong pada pemilu legislative tahun ini.

Selain mengandalkan konstituen Gerindra yang pada pemilu sebelumnya telah mengantarkan Sadar Subagyo duduk di Senayan, Novita juga mengandalkan konstiuen PDIP yang masih setia kepadanya. Di Gerindra Novita juga berhasil mendapatkan nomor urut 1, menggeser kader lama yang tengah duduk di Senayan, Sadar Subagyo.

APK keduanya sangat merata baik di Banyumas maupun di Cilacap. Keduanya tampak saling silih berganti memasang APK. Hari ini Novita memasang APK, besok dibersihkan oleh panwas, besoknya gentian Sadar Subagyo yang memasang, demikian seterusnya. Selain Novita dan Sadar, hampir-hampir tak ada caleg Gerindra di dapil ini yang memasang APK. Keduanya juga rajin turun ke bawah untuk bertemu langsung dengan para calon pemilihnya. Meskipun secara nasional elektabilitas Partai Gerindra naik, namun untuk mendapatkan 2 kursi terasa berat, terlebih setelah Jokowi secara resmi dicapreskan oleh PDIP. Tinggal siapa yang beruntung, Novita atau Sadar?

7.      Partai Demokrat (PD)

Pada Pemilu 2004 Partai Demokrat berhasil mengantar seorang kadernya Suryo Supeno duduk di Senayan, tahun 2009 berhasil mengantar 2 kadernya sekaligus, Fardan Fauzan, dan Khatibul Umam Wiranu. Pemilu kali ini Partai SBY ini juga bertekad kembali meraih minimal 2 kursi dengan menempatkan 8 caleg untuk merebut simpati calon pemilih. Mereka adalah:

1)        Fardan Fauzan, SE., M.Sc (incumbent),
2)        Khatibul Umam Wiranu, MH (incumbent),
3)        Legi Setiawati, SH,
4)        Drs. Bambang Hartono, SH., MH,
5)        Widodo Dwi Prastowo,
6)        Effa Fauziah,
7)        Okto Wiryawan Subagyo, S.Sos, dan;
8)        Selvi Widya Sari, S.Kom.

Berbagai kasus korupsi yang melibatkan banyak kader PD dan pecahnya partai berlambang bintang mercy ini sangat mempengaruhi kecenderungan pemilih pada Pemilu 2014, terlebih berbagai survey menyebutkan bahwa elektabilitas PD turun hingga angka di bawah 10%. Melihat persebarannya, hanya Fardan Fauzan dan Khatibul Umam Wiranu yang APK-nya merata, sekaligus sekali waktu berkenan menyambangai konstituen di daerah, disusul Widodo dan Okto Wiryawan. Peluang untuk mempertahankan 2 kursi di Senayan dari dapil ini semakin berat.

Namun, Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono mengklaim elektabilitas partai yang dipimpinnya terus naik. Menurutnya, peningkatan tingkat keterpilihan itu ditunjukkan oleh lembaga survei yang kredibel yang bekerja selama 10 hari.

"Tiga hari yang lalu dari lembaga survei yang kredibel. Dari hampir seluruh daerah pemilihan, angkanya membawa kebahagian bagi Partai Demokrat," kata SBY saat berbicara di debat kenegaraan konvensi calon presiden Partai Demokrat yang ketujuh digelar di Puri Begawan, Bogor, Jawa Barat, Minggu (2/3).

Meski tak menyebut secara rinci survei yang dimaksud, namun SBY menyatakan bahwa Demokrat saat ini berada di urutan ketiga.  "Urutan pertama dan kedua adalah partai lain," ucapnya.
SBY menjelaskan walaupun berada diperingkat ketiga, jarak elektabilitas Demokrat dengan yang berada di urutan pertama tidak jauh beda. Untuk urutan pertama sebanyak enam persen sedangkan yang kedua hanya lima persen.

"Jaraknya tidak menyeramkan. Survei yang jaranknya dengan nomor satu itu enam persen, nomor dua hanya lima persen. Artinya apa, jika kita pandai melakukan sesuatu cerdas, insyaallah Allah menolong kita dan bisa meningkat lagi sebelum Pemilu," katanya. (awa/jpnn)
Dan yang paling berpeluang adalah Khatibul Umam Wiranu, disusul Fardan Fauzan, Widodo Dwi Prastowo dan Okto Wiryawan. Selebihnya hanya meramaikan Pemilu 2014 saja.


Pada Pemilu 2004 partai ini berhasil mengantakan putra salah seorang pendiri PAN, Amin Rais, Ahmad Mumtaz Rais duduk di Senayan. Namun 5 tahun menjabat namanya hamper tidak terdengar. Tahun ini yang bersangkutan tidak lagi mencalonkan diri. 8 caleg wajah “baru” siap merebut simpati pemilih untuk mempertahankan 1 kursi di Senayan. Mereka adalah: 


3)        Dr. H. Heru Dwiyantoro, SH,
4)        H. Muhammad Hanafi, S.Sos,
5)        Arofiq, SE., S.Sos,
6)        Suci Widianingrum, ST., MT,
7)        Rizkia Prima Yulia, S.Pd, 
1
Dari segi APK, ada 2 caleg yang aktif memasang di sejumlah titik strategis secara merata, Nurhadi Musawwir dan Muhammad Hanafi. Sementara yang paling aktif turun menemui konstituen adalah Muhammad Hanafi yang masih aktif menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Cilacap dari FPAN. Kemungkinan PAN dapat mempertahankan 1 kursi di Senayan, dan yang paling berpeluang adalah Muhammad Hanafi, disusul Nurhadi Musawwir dan Ammy Amalia. Selebihnya hanya meramaikan pemilu saja.


Sejak era reformasi bergulir, PPP belum pernah menempatkan satu kadernya di Senayan dari dapil ini. Pemilu 2014 kali ini, PPP akan mencoba dan berusaha keras untuk menempatkan salah satu kader terbaiknya di Senayan dengan memanfaatkan kemerosotan elektabilitas Partai Demokrat dan PKS. 8calg siap berjuang bersama untuk mendulang sebanyak-banyak suara, mereka adalah: 


3)      Achmad Mustaqim, SP., MM,
4)      Muh. Alaudin Sobarna,
5)      Hartono, S.Sos,
6)      Helvoni Mahrina, SE., MM,
7)      H. Yahya Karomi, SH,
8)      Dra. Hj. Siti Muslikha.

Sa PPP memiliki peluang dengan kisaran angka 2/3 untuk bisa mendapatkan 1 kursi di Senayan. Kemungkinan sisa 2 kursi dari partai papan atas dan partai tengah akan diperebutkan oleh PKB, PKS dan PPP. Dari 8 caleg hanya ada 2 orang caleg yang paling aktif melakukan sosialisasi, penggalanan massa dan turun langsung menemui calon pemilih, yaitu Moh. Alaudin Sobarna dan Yahya Karomi. Alaudin merupakan anggota DPRD Kabupaten Banyumas dari PPP periode 2009-2014.

Dia juga menjabat sebagai Sekretaris Pemennagan Pemilu PPP Kabupaten setempat dan memiliki jaringan yang kuat di lingkungan pesantren, karena kebetulan yang bersangkutan adalah sepupu KH. Zuhrul Anam, pengsuh PP. Attaujieh Leler Banyumas yang sekaligus Ketua DPC PPP Banyumas. Sementara Yahya Karomi adalah aktivis NU Kabupaten Cilacap yang juga Ketua Koperasi Jamu Tradisional Cilacap. Bila beruntung 1 kursi bisa diraih PPP pemilu kali ini, dan peluang itu menjadi milik Moh. Alaudin Sobarna ataupun Yahya Karomi. Caleg selebihnya cukup menjadi penggembira pada Pemilu 2014 kali ini.

10.  Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)

Partai Hanura belum pernah menempatkan kadernya duduk di Senayan melalui dapil ini. Delapan caleg diterjunkan untuk berebut suara yakni: 


1)        Hj. Jurmaini Syakur,
2)        Windu Priyo Wibowo, SE,
3)        Dr. H. Wakhudin, M.Pd,
4)        Kurnia Danu Aji, S.IP,
5)        H. Pramataram RBS, SH. MAP,
6)        Ayi Putri Tjakrawedana,
7)        Hadi Santosa Yahya, SH,
8)        Yenny Nofliani Bengu, A.Md.

  
Hampir tak ada satupun APK dari salah satu caleg terpasang hingga permulaan hari kampanye resmi dimulai sebagai media sosialisasi kepada calon pemilih, kian terasa berat Hanura mendapatkan 1 saja kursi di sini.

Sama dengan PPP dan Hanura, PBB belum pernah menempatkan kadernya duduk di Senayan melalui dapil ini. Pada Pemilu 2014 ini seperti menjadi semakin berat bagi partai Bang Yusril ini untuk bisa meraih 1 kursi saja. Delapan caleg diterjunkan di sini yaitu: 

1)      Prio Jatmiko,
2)      Dr. H. Aris Sugiri,
3)      Dwi Suprapti,
4)      Muhamad Nasihin,
5)      Seindah Sumiwi,
6)      Dewi Sartika Sari,
8)      Warsito.

Serupa denan Hanura, hingga tulisan ini dibuat belum ada APK yang bisa membantu sosialisasi nama-nama caleg kepada calon pemilihnya.


Setali tiga uang dengan PPP, Hanura dan PBB, partai pimpinan Sutiyoso ini belum pernah menempatkan kadernya di Senayan, dan tahun 2014 ini sepertinya masih sangat jauh dari keberuntungan. Delapan caleg diterjunkan untuk meraih simpati calon pemilih yaitu:


2)        Drs. Saryono Jahidi,
3)        Tiara Larasati, S.Kom,
4)        Sugito,
5)        Urip Widyaningsih,
6)        Syah Priyandono, SE,
7)        H. Sutedjo Sachlan,
8)        Astrid Cinderella Bisara.

Namun tak satupun caleg yang memasang APK sebagai media perkenalan kepada calon pemilihnya, atau sudah dibredel panwas ya?


NO
PARTAI
2004
2009
2014
1
PDIP
3 kursi
2 kursi
2 kursi
2
DEMOKRAT
1 kursi
2 kursi
1 kursi
3
GOLKAR
2 kursi
1 kursi
1 kursi
4
PKB
1 kursi
0 kursi
1 kursi
5
PAN
1 kursi
1 kursi
1 kursi
6
GERINDRA
0 kursi
1 kursi
1 kursi
7
PKS
0 kursi
1 kursi
0 kursi
8
PPP
0 kursi
0 kursi
1 kursi

JUMLAH
8 kursi
8 kursi
8 kursi


Demikian prediksi komposisi anggota DPR-RI dari Dapil VIII di mana saya tinggal, bagaimana dengan prediksi komposisi anggota DPR-RI di dapil anda tinggal? (Banyumas; 16 Maret 2014)

Sumber: 

2.      Abdul Ghofar Al-Amin, “Opini”